PP Nurul Iman – Memasuki bulan April 2026, suasana akademik di Madrasah Aliyah (MA) Nurul Iman Kesugihan terasa lebih istimewa. Para siswa kelas 12 tengah menjalani rangkaian ujian akhir mulai tanggal 1 hingga 18 April 2026, yang tahun ini berbeda dari biasanya.
Tidak hanya mengandalkan satu metode, madrasah ini melaksanakan tiga bentuk ujian sekaligus, yaitu Computer Based Test (CBT), Ujian Praktik, dan Ujian Lisan. Yang membedakannya dari tahun-tahun sebelumnya adalah integrasi penuh antara kurikulum madrasah dengan Pondok Pesantren Nurul Iman.
Integrasi ini menjadi napas utama dari seluruh proses ujian. Dengan menyatukan standar kelulusan dari kedua lembaga, pihak madrasah berharap siswa tidak hanya menyelesaikan studi dengan baik di madrasah, tetapi juga di pesantren. “Keduanya harus seimbang,” ujar salah satu pengurus akademik. Pendekatan ini lahir dari kebutuhan mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam ilmu umum, tetapi juga memiliki fondasi agama yang kuat dari lingkungan pesantren.
Perbedaan yang paling terasa adalah pada pelaksanaan ujian praktik. Para siswa dituntut untuk memaksimalkan jiwa kewirausahaan mereka melalui beragam proyek nyata.
Mulai dari pembuatan kain batik, produksi makanan siap jual, hingga tes penggunaan Microsoft Office sebagai bekal menghadapi era digital. Ketiga keterampilan ini dirangkum dalam satu tantangan: bagaimana siswa tidak sekadar tahu teori, tetapi mampu menciptakan produk dan mengoperasikan perangkat teknologi modern.
Selanjutnya, pada ujian lisan, fokus diarahkan pada penguasaan Dirosah Islamiyah (kajian keislaman). Para penguji mengukur pemahaman siswa terhadap kitab kuning, serta ilmu bahasa seperti Nahwu dan Sharaf yang telah diajarkan selama masa studi di Pondok Pesantren Nurul Iman.
Ujian ini menjadi penentu penting, karena mencerminkan kemampuan siswa dalam memahami literatur klasik Islam—ciri khas pendidikan pesantren yang tidak bisa digantikan oleh ujian tertulis biasa.
Dengan berakhirnya rangkaian ujian pada 18 April 2026, MA Nurul Iman berharap seluruh siswa kelas 12 dapat lulus dengan predikat membanggakan, baik dari sisi akademik madrasah maupun kompetensi keagamaan pesantren.
Integrasi ini diharapkan menjadi model bagi lembaga pendidikan lain di Cilacap, bahwa kolaborasi antara kurikulum formal dan non-formal dapat menghasilkan generasi yang cerdas, berkarakter wirausaha, dan berakar kuat pada ilmu agama.
Penulis: Tim Humas MA Nurul Iman Kesugihan
